SINTANG-Selasa, 1 Juli 2025, Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala menghadiri sekaligus membuka Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Festival Lestari. Kegiatan bertempat di Pendopo Bupati Sintang.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala, perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Sanggau, Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Kepala BAPPEDA Sintang beserta jajarannya, dan tim Lingkar Temu Kabupaten Lestari.
Rapat koordinasi persiapan dan arahan Kepala Daerah dilaksanakan untuk kelancaran persiapan teknis di masing-masing kabupaten sebagai pemantapan persiapan penyelenggaraan Festival Lestari VI tahun 2026, yang dimana berdasarkan hasil Rapat Umum Anggota Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) pada tahun 2024, bahwa Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sanggau ditetapkan sebagai tuan rumah Festival Lestari VI tahun 2026.
Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Festival Lestari menjadi isyarat kuat bahwa pemerintah daerah berkomitmen dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berbasis kearifan lokal, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Harapan besar masyarakat mengalir kepada Bupati Sintang agar festival ini tidak hanya menjadi ajang promosi wisata dan budaya, tetapi juga menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat adat untuk merancang masa depan Sintang yang hijau, inklusif, dan tangguh terhadap krisis lingkungan.
Mereka berharap festival ini dapat mengangkat potensi daerah mulai dari hutan adat, kekayaan hayati, kuliner tradisional, hingga karya-karya kreatif masyarakat lokal untuk dikenalkan ke tingkat nasional bahkan internasional.
Masyarakat juga menginginkan agar Rapat Koordinasi ini tidak berhenti pada perencanaan administratif, melainkan menjadi tonggak awal sinergi lintas sektor yang konkret. Bupati diharapkan dapat mendorong perangkat daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan pemuda-pemudi lokal untuk turut ambil bagian dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari penyusunan konsep, pengelolaan acara, hingga evaluasi pelaksanaan. Pelibatan aktif ini menjadi bentuk nyata demokrasi partisipatif dalam pelestarian budaya dan lingkungan.
Editor: Indri







