ASAP Kembali Gelar Aksi Damai Di Kantor Pengadilan Negeri Sintang

ASAP Kembali Gelar Aksi Damai Di Kantor Pengadilan Negeri Sintang

Wartajurnalis.com Sintang. Setelah Pada Hari Selasa 19 Nov 2019 yang Lalu Mendatangi Kantor DPRD kota Sintang,Hari ini Kamis 21 Nov 2019 Aliansi Solidaritas Anak Peladang (ASAP) Kabupaten Sintang Beserta Mahasiswa Kembali Berkumpul guna mengawal jalanya Sidang keputusan akhir pengadilan negeri Sintang kepada Ke Enam Peladang Yang di Tahan Atas Dugaan Pembakaran Lahan.

Adapun Masa Hari ini diperkirakan lebih besar jumlah nya dari Hari Selasa lalu, dimana seperti di ketahui pada Selasa lalu masa hanya berjumlah sekitar 600 Orang masa, namun hari ini masa Aksi Damai guna mengawal hasil sidang putusan pengadilan Sintang di perkirakan akan membludak mencapai Ribuan Masa Aksi.
Sementara itu pihak Keamanan Polres Sintang Melalui surat permohonan BKO Kepada Kapolda Kalbar Mengkonfirmasi Penambahan Jumlah Personil dari pihak Polda guna menambah Personil pengamanan.

Melalui surat permohonan BKO Polres Sintang Tersebut, Adapun Personil pengamanan tertulis terdiri dari 376 personil polres Sintang, 200 personil TNI Dari Kodim 1205 Sintang,dan tambahan 500 personil Dari Kepolisian daerah Kalimantan Barat (Polda). Yang di perkirakan akan berjumlah Seribu lebih personil.

Sampai saat ini belum ada konfirmasi apakah akan ada penambahan personil pengamanan.
Seperti Diketahui Bahwa selama ini Penahanan Terhadap Ke Enam peladang Tersangka Kasus pembakaran lahan memang mengundang reaksi banyak pihak terutama masyarakat peladang di kabupaten Sintang.

Di bawah Aliansi Solidaritas Anak Peladang ASAP, petani kabupaten Sintang menuntut Agar pemerintah kabupaten Sintang dapat membebaskan ke Enam peladang tersebut dan segera merevisi undang-undang peraturan Bupati Tentang pembakaran lahan.

ASAP juga menuntut kejelasa perusahaan sawit yang sudah di segel atas dugaan kebakaran lahan agar di tindak lanjuti secara tegas,karena Di anggap justru merugikan masyarakat peladang.

 

“Membakar ladang sudah budaya kami sejak nenek moyang bang, kami semua anak petani,kami tidak bisa bayangkan apa yang akan di makan saudara kami yang orang Tuanya di tahan karena berladang, padahal mereka berladang untuk pangan keluarga, agar mereka tidak menggunakan uang untuk membeli beras, melainkan untuk biaya kami sekolah bang, sekarang ayah mereka di tangkap, siapa yang urus ladang mereka, apakah mereka akan di biarkan kelaparan dan putus sekolah?. Begitulah ungkapan salah satu peserta unjuk rasa yang tidak di sebutkan namanya”(elo)