Hakim Dan Jaksa Diminta Bijak Terkait 6 Peladang Disintang

SINTANG-Tuntutan 6 bulan penjara serta masa percobaan 1 tahun terhadap 6 peladang yang ditangkap akibat membakar ladang oleh Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Negeri Sintang Rabu 12 Februari 2020 dianggap oleh masyarakat adat telah mencederai rasa keadilan terhadap adat istiadat serta kebiasaan masyarakat adat dayak,ujar Welbertus, S.Sos kepada media ini(12/2/2020).

Dirinya merasa kesal, pasalnya JPU dianggap tidak punya hati nurani serta tidak memahami inti persoalan yang sebenarnya terjadi, sehingga penafsiran hukum akan hal tersebut keliru,tegas Welbertus yang merupakan Tokoh muda Dayak Sintang.

Politisi PDI Perjuangan Kabupaten Sintang ini juga mengaku sangat kecewa terhadap tuntutan jaksa yang dinilai tidak memiliki hati nurani, bagaimana tidak kondisi ini tentu akan berdampak buruk bagi keberlangsungan adat istiadat serta kebiasaan suku dayak yang sangat sakral pasalnya berladang merupakan kegiatan masyarakat Dayak khususnya dan masyarakat yang ada Di Kalimantan ini merupakan cara melestarikan kearifan lokal serta nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya, oleh sebab itu dengan berladang justru menjaga siklus tumbuh kembangnya hutan.

Pihaknya juga mengatakan khawatir demean tuntutan JPU ini yang bisa saja berdampak negatif atas keamanan serta kondusifitas diseluruh pelosok dimana ada masyarakat adat yang berladang. Kini semua tergantung hakim melihat persoalan ini. Semoga hakim memiliki hati nurani dan bisa melihat persoalan dengan pikiran dan hati yang jernih.

Ia juga menegaskan agar Jaksa dan hakim mesti bertanggung jawab dengan keputusannya tersebut,bebernya.(Masius).