SINTANG-Selasa, 8 Juli 2025, Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang Kartiyus, S.H., M.Si, menghadiri sekaligus membuka secara resmi Kegiatan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Kegiatan ini bertempat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sintang.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Sekda Kabupaten Sintang, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dan jajarannya serta para peserta kegiatan.
Kegiatan yang mengusung tema “Strategi Pengembangan Literasi Berbasis Inklusi Sosial” ini bertujuan untuk mengembangkan peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat, tidak hanya dalam bentuk literasi baca-tulis, tetapi juga literasi fungsional yang bermanfaat langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang teknik menanam tanaman hidroponik sebagai solusi kreatif dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan. Sistem hidroponik dinilai mampu mendorong masyarakat untuk mandiri dalam memproduksi pangan, sekaligus menjadi strategi alternatif dalam menekan inflasi pangan dan menjaga stabilitas harga bahan makanan di Sintang.
Dalam sambutannya, Sekda Kartiyus menegaskan pentingnya transformasi perpustakaan agar tidak lagi dipandang sebagai tempat penyimpanan buku semata, tetapi menjadi ruang inklusif untuk penguatan kapasitas masyarakat.
Usai kegiatan, Sekda didampingi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sintang meninjau langsung tanaman hidroponik yang telah dikembangkan sebagai bagian dari praktik lapangan peserta pelatihan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam memperluas peran perpustakaan di tengah masyarakat serta memperkuat sinergi antara literasi, kemandirian ekonomi, dan pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan di Kabupaten Sintang.
Masyarakat berharap agar perpustakaan tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat membaca buku, tetapi berkembang menjadi pusat pembelajaran dan pelatihan keterampilan hidup, seperti halnya pelatihan hidroponik yang diberikan dalam kegiatan ini.
Mereka melihat bahwa literasi fungsional seperti ini sangat dibutuhkan, terutama dalam upaya meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga serta menghadapi tantangan inflasi dan ketahanan pangan yang kini dirasakan oleh masyarakat luas.
Masyarakat juga berharap agar program ini tidak berhenti hanya pada pelatihan satu kali, tetapi berlanjut dalam bentuk pendampingan dan pengembangan komunitas belajar, sehingga ilmu yang diperoleh tidak hilang begitu saja.
Mereka menginginkan agar setiap peserta pelatihan dapat dibimbing hingga mampu mengimplementasikan hasil pelatihan secara mandiri di rumah atau di lingkungan masing-masing.
Editor: Indri







